Beberapa hari lalu, aku berjanji untuk share pengalaman membaca surat Al Kahfi.
Sore yang sunyi, aku sendirian di rumah. Duduk menghadap komputer sambil menekan-nekan tombol keyboard. Untung keyboard tidak punya mulut dan tidak bisa bicara. Keyboard sungguh sabar, dipijit-pijit terus tapi tidak pernah marah dan mengeluh. Jika keyboard anda bisa bicara, kira-kira apa yang akan dia katakan pada anda?
Oops, jumat sore, aku belum melakukan amalan jum’atan. Amalan jum’atan adalah amalan yangdilakukan khusus hari jum’at. Jadi jum’atan tidak hanya sekedar shalat jum’at, ada lagi amalan khusus hari jum’at. Di antaranya adalah memperbanyak shalawat. Juga membaca surat Al Kahfi. Sore itu aku belum membaca surat Al Kahfi.
Mengapa membaca surat Al Kahfi setiap jum’at? Karena ada hadits dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam :
Dari Abu Sa'id Al Khudri radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Barangsiapa membaca surat Al Kahfi pada hari Jum'at, niscaya bacaan tersebut menjadi cahaya baginya yang meneranginya antara dua Jum'at."
(HR. Hakim dan Baihaqi dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami'us Shaghir)
Aku berhenti menekan-nekan tombol keyboard. Masih tetap di depan komputer, aku mulai membaca surat Al Kahfi. Tapi rasanya gimana gitu, tidak nyaman, aku beranjak ke ruang tengah, lalu kembali lagi ke kamar komputer 15 menit kemudian.
Aku meneruskan lagi bacaan surat Al Kahfi, tapi sebentar, mengapa aku tidak mencoba membaca sekaligus dengan tafsirnya ? Gimana caranya? Membaca sambil membawa kitab tafsir yang tebal? Tentu tidak. Kan ada program maktabah shamilah di komputer. Tinggal buka ayatnya, lalu pilih tafsir As Sa’diy. Mengapa tafsir As Sa’diy? Bukan yang lainnya? Asal tahu saja, di program maktabah shamilah ada 40 lebih kitab tafsir. Tinggal pilih yang mana.
Tapi aku memilih tafsir As Sa’diy, yang judul lengkapnya Taysir Al Karim Ar Rahman, fi Tafsiri Kalam Al Mannan. Artinya, kemudahan dari yang Maha Pemurah dan Penyayang, dalam menafsirkan Ucapan Sang Pemberi Nikmat. Aku memilih tafsir As Sa’diy karena tafsirnya ringkas, sekaligus menjelaskan pelajaran-pelajaran dari ayat.
Aku mulai membaca ayat, dan melihat tafsirnya sekaligus. Rasanya lain, seperti ada sesuatu dalam hati yang melanda. Rasanya nikmat. Apakah karena bisa langsung membaca pelajaran-pelajaran dari ayat, sambil membaca ayatnya? Atau karena apa?
Barangkali ini yang disebut dengan tadabbur, yaitu membaca ayat-ayat Al Qur’an, sekaligus menyerap makna-makna dan tafsirnya, sambil menyerap pelajaran-pelajarannya. Rasanya indah sekali. Rasanya nikmat sekali. Rasanya seperti ada yang beda dalam hati ini.
Nah, apakah kita sudah puas dengan Al Qur’an kita, apakah kita sudah merasakan nikmatnya Al Qur’an?
Coba membaca Al Qur’an dengan tafsirnya. Jika tidak ada tafsir, terjemahan pun jadi. Caranya, bacalah satu ayat, lalu lihat tafsirnya, atau terjemahannya. Renungkan isinya dalam hati anda. Jika masih susah merenungkan dalam hati, jangan menyerah, coba lagi, dan lagi, terus mencoba. Jangan menyerah.
Silahkan mencoba..Semoga bermanfaat
(Syarif Baraja, Solo, Jawa Tengah)
Sore yang sunyi, aku sendirian di rumah. Duduk menghadap komputer sambil menekan-nekan tombol keyboard. Untung keyboard tidak punya mulut dan tidak bisa bicara. Keyboard sungguh sabar, dipijit-pijit terus tapi tidak pernah marah dan mengeluh. Jika keyboard anda bisa bicara, kira-kira apa yang akan dia katakan pada anda?
Oops, jumat sore, aku belum melakukan amalan jum’atan. Amalan jum’atan adalah amalan yangdilakukan khusus hari jum’at. Jadi jum’atan tidak hanya sekedar shalat jum’at, ada lagi amalan khusus hari jum’at. Di antaranya adalah memperbanyak shalawat. Juga membaca surat Al Kahfi. Sore itu aku belum membaca surat Al Kahfi.
Mengapa membaca surat Al Kahfi setiap jum’at? Karena ada hadits dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam :
Dari Abu Sa'id Al Khudri radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
"Barangsiapa membaca surat Al Kahfi pada hari Jum'at, niscaya bacaan tersebut menjadi cahaya baginya yang meneranginya antara dua Jum'at."
(HR. Hakim dan Baihaqi dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami'us Shaghir)
Aku berhenti menekan-nekan tombol keyboard. Masih tetap di depan komputer, aku mulai membaca surat Al Kahfi. Tapi rasanya gimana gitu, tidak nyaman, aku beranjak ke ruang tengah, lalu kembali lagi ke kamar komputer 15 menit kemudian.
Aku meneruskan lagi bacaan surat Al Kahfi, tapi sebentar, mengapa aku tidak mencoba membaca sekaligus dengan tafsirnya ? Gimana caranya? Membaca sambil membawa kitab tafsir yang tebal? Tentu tidak. Kan ada program maktabah shamilah di komputer. Tinggal buka ayatnya, lalu pilih tafsir As Sa’diy. Mengapa tafsir As Sa’diy? Bukan yang lainnya? Asal tahu saja, di program maktabah shamilah ada 40 lebih kitab tafsir. Tinggal pilih yang mana.
Tapi aku memilih tafsir As Sa’diy, yang judul lengkapnya Taysir Al Karim Ar Rahman, fi Tafsiri Kalam Al Mannan. Artinya, kemudahan dari yang Maha Pemurah dan Penyayang, dalam menafsirkan Ucapan Sang Pemberi Nikmat. Aku memilih tafsir As Sa’diy karena tafsirnya ringkas, sekaligus menjelaskan pelajaran-pelajaran dari ayat.
Aku mulai membaca ayat, dan melihat tafsirnya sekaligus. Rasanya lain, seperti ada sesuatu dalam hati yang melanda. Rasanya nikmat. Apakah karena bisa langsung membaca pelajaran-pelajaran dari ayat, sambil membaca ayatnya? Atau karena apa?
Barangkali ini yang disebut dengan tadabbur, yaitu membaca ayat-ayat Al Qur’an, sekaligus menyerap makna-makna dan tafsirnya, sambil menyerap pelajaran-pelajarannya. Rasanya indah sekali. Rasanya nikmat sekali. Rasanya seperti ada yang beda dalam hati ini.
Nah, apakah kita sudah puas dengan Al Qur’an kita, apakah kita sudah merasakan nikmatnya Al Qur’an?
Coba membaca Al Qur’an dengan tafsirnya. Jika tidak ada tafsir, terjemahan pun jadi. Caranya, bacalah satu ayat, lalu lihat tafsirnya, atau terjemahannya. Renungkan isinya dalam hati anda. Jika masih susah merenungkan dalam hati, jangan menyerah, coba lagi, dan lagi, terus mencoba. Jangan menyerah.
Silahkan mencoba..Semoga bermanfaat
(Syarif Baraja, Solo, Jawa Tengah)



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !